Data Warehouse, OLAP, OLTP, Data Mining

PENGERTIAN DATA WAREHOUSE

UntitledData warehouse adalah suatu konsep dan kombinasi teknologi yang memfasilitasi organisasi untuk mengelola dan memelihara data historis yang diperoleh dari sistem atau aplikasi operasional [Ferdiana, 2008].
Pemakaian teknologi data warehouse hampir dibutuhkan oleh semua organisasi, tidak terkecuali Perpustakaan. Data warehouse memungkinkan integrasi berbagai macam jenis data dari berbagai macam aplikasi atau sistem. Hal ini menjamin mekanisme akses “satu pintu bagi manajemen untuk memperoleh informasi, dan menganalisisnya untuk pengambilan keputusan”.

Beberapa konsep dasar tentang data warehouse :

  • Data warehouse adalah data-data yang berorientasi subjek, terintegrasi, memiliki dimensi waktu, serta merupakan koleksi tetap (non-volatile), yang digunakan dalam mendukung proses pengambilan keputusan oleh para manajer di setiap jenjang (namun terutama pada jenjang manajerial yang memiliki peringkat tinggi).
  • Data warehouse adalah suatu paradigma baru dilingkungan pengambilan keputusan strategik. Data warehouse bukan suatu produk tetapi suatu lingkungan dimana user dapat menemukan informasi strategik [Poniah, 2001, h.14]. Data warehouse adalah kumpulan data-data logik yang terpisah dengan database operasional dan merupakan suatu ringkasan.
  • Data warehouse adalah data yang diperoleh dari proses dimana organisasi mengekstraksi makna dari aset infromasi yang mereka miliki. Data warehouse adalah inovasi baru dalam hal teknologi informasi. Sejak dimulai sekitar 15 tahun lalu, konsep data warehouse ini berkembang secara cepat sehingga saat ni konsep data warehouse ini adalah konsep yang paling banyak dibicarakan oleh para ahli di bidang tekhnologi informasi.
  • Data Warehouse adalah Pusat repositori informasi yang mampu memberikan database berorientasi subyek untuk informasi yang bersifat historis yang mendukung DSS (Decision Suport System) dan EIS (Executive Information System).
  • Salinan dari transaksi data yang terstruktur secara spesifik pada query dan analisa.
  • Salinan dari transaksi data yang terstruktur spesifik untuk querydan laporan.

Tujuan Utama

Tujuan utama dari pembuatan data warehouse adalah untuk menyatukan data yang beragam ke dalam sebuah tempat penyimpanan dimana pengguna dapat dengan mudah menjalankan query (pencarian data), menghasilkan laporan, dan melakukan analisis. Salah satu keuntungan yang diperoleh dari keberadaan data warehouse adalah dapat meningkatkan efektifitas pembuatan keputusan (Wajarsana, 2008)

KARAKTERISTIK DATA WAREHOUSE

1. Berorientasi Subjek.

Data warehouse terorganisasi di seputar subjek kunci (atau entitas-entitas peringkat tinggi) dalam perusahaan, Data warehouse adalah tempat penyimpanan berdasakan subyek bukan berdasakan aplikasi. Subyek merupakan bagian dari suatu perusahaan. Contoh subyek pada perusahaan manufaktur adalah penjualan, konsumen, inventori, daln lain sebagainya.

Contoh lain misalnya di bank, aplikasi kredit mengotomasi fungsi-fungsi:verifikasi lamaran dan credit checking, pemeriksaan kolateral, approval, pendanaan, tagihan, dan seterusnya. Didalam data warehouse data-data yang dihasilkan dari proses kredit ini, diatur kembali (dikelompokkan) dan diintegrasikan (digabung) dengan data-data dari fungsi-fungsi lain, agar berorientasi pada misalnya nasabah dan produk.

2. Terintegrasi

Data yang tersimpan dalam data warehouse didefinisikan menggunakan konversi penamaan yang konsisten, format-format, struktur terkodekan, serta karakteristik-karakteristik yang berhubungan, Sumber data yang ada dalam data warehouse tidak hanya berasal dari database operasional (internal source) tetapi juga berasal dari data diluar sistem (external source). Data pada sumber berbeda dapat di-encode dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh, data jenis kelamin dapat di-enkode sebagai 0 dan 1 di satu tempat dan ”m” dan ”f” di tempat lain.

Contoh lain misalnya : Data dari macam-macam aplikasi transaksi (untuk bank misalnya: tabungan, kredit, rekening koran) semua mengandung data nasabah, ada yang sama ada yang spesifik (yang sama misalnya: nama dan alamat, yang spesifik misalnya: untuk kredit ada kolateral, untuk rekening koran ada overdraft) didalam data warehouse data-data yang sama harus diintegrasikan disatu database, termasuk misalnya diseragamkan formatnya (sederhana tetapi paling sering terjadi – aplikasi-aplikasi sering dibeli vendor berbeda, dibuat dengan/dijalankan di teknologi berbeda-beda)

3. Memiliki dimensi waktu (Time variant)

Data yang tersimpan dalam data warehouse mengandung dimensi waktu yang mungkin digunakan sebagai rekaman bisnis untuk tiap waktu tertentu, Data warehouse menyimpan sejarah (historical data). Bandingkan dengan kebutuhan sistem operasional yang hampir semuanya adalah data mutakhir! Waktu merupakan tipe atau bagian data yang sangat penting didalam data warehouse.

Didalam data warehouse sering disimpan macam-macam waktu, seperti waktu suatu transaksi terjadi/dirubah/dibatalkan, kapan efektifnya, kapan masuk ke komputer, kapan masuk ke data warehouse; juga hampir selalu disimpan versinya, misalnya terjadi perubahan definisi kode pos, maka yang lama dan yang baru ada semua didalam data warehouse kita. Sekali lagi, data warehouse yang bagus adalah yang menyimpan sejarah.

4. Non-volatile

Data yang tersimpan dalam data warehouse diambil dari system operasional yang sedang berjalan, tetapi tidak dapat diperbaharui (di-update) oleh pengguna (bersifat ‘hanya-baca), Sekali masuk kedalam data warehouse, data-data, terutama data tipe transaksi, tidak akan pernah di update atau dihapus (delete) Terlihat, bahwa keempat karakteristik ini saling terkait kesemuanya harus diimplementasikan agar suatu data warehouse bisa efektif memiliki data untuk mendukung pengambilan-keputusan. Dan, implementasi keempat karakteristik ini membutuhkan struktur data dari data warehouse yang berbeda dengan database sistem operasional.

Data dalam database operasional akan secara berkala atau periodik dipindahkan kedalam data warehouse sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Misal perhari, perminggu, perbulan, dan lain sebagainya. Sekali masuk ke dalam data warehouse, data adalah read-only . Pada gambar 2 dibawah ini bisa dilihat bahwa database OLTP bisa dibaca, diupdate, dan dihapus. Tetapi pada database data warehouse hanya bisa dibaca.

5. Ringkas

Jika diperlukan, data operasional dikumpulkan ke dalam ringkasan-ringkasan

6. Granularity

Pada sistem operasional data dibuat secara real-time sehingga untuk mendapatkan informasi langsung dilakukan proses query. Pada data warehouse pada menganalisis harus memperhatikan level-of-detail misalkan perhari, ringkasan perbulan, ringkasan per-tiga-bulan.

7. Tidak ternormalisasi

Data di dalam sebuah data warehouse biasanya tidak ternormalisasi dan sangat redundan. Dasar dari suatu data warehouse adalah suatu data yang besar yang mengandung informasi bisnis. Data-data yang ada di dalam data warehouse bisa berasal dari banyak sumber, misalkan dari database operasional atau transaksional dan sumber dari luar misalkan dari web, penyedia jasa informasi, dari perusahaan lain, dan lain sebagainya.

Kelebihan dan Kekurangan Data warehouse

    1. Kelebihan Data warehouse :

  • data terorganisir dengan baik untuk query analisis dan sebagai bahan yang baik untuk proses transaksi.
  • perbedaan struktur data yang banyak macamnya dari sumber yang berbeda dapat di atasi
  • memiliki aturan transformasi untuk memvalidasi dan menkonsolidasi data dari OLTP ke datawarehouse.
  • masalah keamanan dan kinerja dapat dipecahkan tanpa perlu mengubah sistem produksi.
  • memiliki model data yang banyak macamnya, dan tidak tergantung dari format data awal/sumbernya, sehingga memudahkan dalam menciptakan laporan.
  • proses transformasi/ perpindahan dapat di monitoring. jika terjadi kesalahan dapat di arahkan / di luruskan.
  • informasi yang disimpan dalam data warehouse, jadi ketika OLTP data sumber nya hilang, informasi yang diolah tetap terjaga dalam suatu datawarehouse.
  • datawarehose tidak memperlambat kerja operasional transaksi.
  • dapat menyediakan laporan yang bermacam-macam

2. Kekurangan Datawarehouse :

  • datawarehouse bukan merupakan lingkungan yang cocok untuk data yang tidak terstruktur.
  • data perlu di ekstrak, diubah (ETL) dan di load ke datawarehouse sehingga membutuhkan tenggang waktu untuk memindahkannya.
  • semakin lama dipelihara, semakin besar biaya untuk merawat sebuah datawarehouse.
  • datawarehouse dapat menjadi ketinggalan dari data terbaru yang relatif cepat, karena data yang digunakan di datawarehouse tidak di update secara cepat. sehingga data yang ada tidak optimal.

OLAP (OnLine Analytical Processing)

a. Pengertian OLAP

Suatu jenis prangkat lunak yang melakukan pemrosesan untuk menganalisa data bervolume besar dari berbagai perspektif (multidimensi). OLAP seringkali disebut analisis data multidimensi yang berfungsi sebagai data analasis (select) (Ardi, 2010).

Data multidimensi adalah data yang dapat dimodelkan sebagai atribut dimensi dan atribut ukuran. Contoh atribut dimensi adalah nama barang dan warna barang, sedangkan contoh atribut ukuran adalah jumlah barang.
42554olap-oltp

OLTP (Online Transaction Processing Systems)

Online Transaction Processing Systems (OLTP) adalah suatu sistem yang memproses suatu transaksi secara langsung (insert,update,delete) melalui komputer yang terhubung dalam jaringan. OLTP berorientasi pada proses yang memproses suatu transaksi secara langsung melalui komputer yang terhubung dalam jaringan (Ardi, 2010).

Seperti misalanya kasir pada sebuah super market yang menggunakan mesin dalam proses transaksinya. OLTP mempunyai karakteristik beberapa user dapat creating, updating, retrieving untuk setiap record data, lagi pula OLTP sangat optimal untuk updating data.

Data Mining

Data-mining adalah perangkat lunak yang digunakan untuk menemukan pola-pola tersembunyi maupun hubungan-hubungan yang terdapat dalam kumpulan basisi data. Atau dapat dikatakan serangkaian proses untuk menggali nilai tambah berupa informasi yang selama ini tidak diketahui secara manual dari suatu basisdata (Fairuz, 2009).

Informasi yang dihasilkan diperoleh dengan cara mengekstraksi dan mengenali pola yang penting atau menarik dari data yang terdapat dalam basisdata. Data mining ini mengunakan beberapa teknik analis untuk menemukan pola tersebut,antara lain:statistik,algoritma genetika,dan lain-lain.

Semoga Bermanfaat
Referensi : Nenny Anggraini, SKom., MT

Debugging dan Tujuan Debugging

Debugging adalah sebuah metode yang dilakukan oleh para pemrogram danpengembang perangkat lunak untuk mencari dan mengurangi bug, atau kerusakan di dalam sebuah program komputer atau perangkat keras sehingga perangkat tersebut bekerja sesuai dengan harapan. Debugging cenderung lebih rumit ketika beberapa subsistem lainnya terikat dengan ketat dengannya, mengingat sebuah perubahan di satu sisi, mungkin dapat menyebabkan munculnya bug lain di dalam subsistem lainnya.

Bug dengan terjemahan langsung ke bahasa Indonesia adalah serangga atau kutu.Bug merupakan suatu kesalahan desain pada suatu perangkat keras komputer atauperangkat lunak komputer yang menyebabkan peralatan atau program itu tidak berfungsi semestinya. Bug umumnya lebih umum dalam dunia perangkat lunak dibandingkan dengan perangkat keras.

Kenapa dinamakan bug?

Tahun 1945 sewaktu ukuran komputer masih sebesar kamar, pihak militerAmerika Serikat menggunakan komputer yang bernama “Mark 1″. Suatu hari komputer ini tidak berfungsi dengan semestinya, setelah komputer itu diperiksa ternyata ada suatu bagian perangkat keras di mana terdapat serangga yang tersangkut. Setelah serangga itu diangkat dari perangkat keras, komputer dapat berfungsi dengan baik. Maka sejak saat itu kata bug lekat dengan masalah-masalah pada komputer. Debugging adalah proses menghilangkan bug dari suatu program.

Pengujian perangkat lunak adalah proses yang dapat direncanakan dan ditentukan secara sistematis. Desain test case dapat dilakukan, strategi dapat ditentukan, dan hasil dapat dievaluasi berdasarkan harapan-harapan yang ditentukan sebelumnya.

Debugging terjadi sebagai akibat dari pengujian yang berhasil. Jika test case mengungkap kesalahan, maka debugging adalah proses yang menghasilkan penghilangan kesalahan. Perekayasa perangkat lunak yang mengevaluasi hasil suatu pengujian sering dihadapkan pada indikasi “simtomatis” dari suatu masalah pernagkat lunak, yaitu bahwa manisfestasi eksternaldari kesalahan dan penyebab internal kesalahan dapat tidak memiliki hubungan yang jelas satu dengan lainnya. Proses mental yang dipahami secara buruk yang menghubungkan sebuah symptom dengan suatu penyebab disebut debugging.

Proses Debugging

Debugging bukan merupakan pengujian, tetapi selalu terjadi sebagai bagian akibat dari pengujian. Proses debungging dimulai dengan eksekusi terhadap suatu test case. Hasilnya dinilai, dan ditemukan kurangnya hubungan antara harapan dan yang sesungguhnya. Dalam banyak kasus, data yang tidak berkaitan merupakan gejala dari suatu penyebab pokok tetapi masih tersembunyi, sehingga perlu ada koreksi kesalahan.

Proses debugging akan selalu memiliki salah satu dari dua hasil akhir berikut:

  1. Penyebab akan ditemukan, dikoreksi, dan dihilangkan, atau
  2. Penyebab tidak akan ditemukan.

Dalam kasus yang terakhir, orang yang melakukan debugging mungkin mencurigai suatu penyebab, mendesainsuatu test case untuk membantu kecurigaannya, dan bekerja untuk koreksi kesalahan dengan gaya yang iterative.

Beberapa karakteristik bug memberi kunci :

  1. Gejala dan penyebab dapat jauh secara geografis, dimana gejala dapat muncul didalam satu bagian dari suatu program, sementara penyebab dapat ditempatkan pada suatu sisi yang terlepas jauh.
  2. Gejala dapat hilang (kadang-kadang) ketika kesalahan yang lain dibetulkan.
  3. Gejala dapat benar-benar disebabkan oleh sesuatu yang tidak salah (misalnya pembulatan yang tidak akurat).
  4. Simpton dapat disebabkan oleh kesalahan manusia yang tidak dapat dengan mudah ditelusuri.
  5. Gejala dapat merupakan hasil dari masalah timing, dan bukan dari masalah pemrosesan.
  6. Mungkin sulit untuk mereproduksi kondisi input secara akurat (misalnya aplikasi real time dimana pengurutan input tidak ditentukan).
  7. Gejala dapat sebentar-sebentar. Hal ini sangat umum pada system yang embedded yang merangkai perangkat lunak dan perangkat keras yang tidak mungkin dilepaskan.
  8. Gejala dapat berhubungan dengan penyebab yang didistribusikan melewati sejumlah tugas yang bekerja pada prosesor yang berbeda.

Selama debugging, kita menemukan kesalahan-kesalahan mulai dari gangguan yang halus (missal format output yang tidak betul) sampai katrastropis (misalnya kegagalan system yang menyebabkan kerusakan fisik atau ekonomis).

Sebagai akibat dari peningkatan keslahan, jumlah tekanan untuk menemukan kesalahan juga bertambah. Sering kali tekanan memaksa seorang pengembang perangkat lunak untuk membetulkan keslahan dan pada saat yang sama memunculkan lagi dua kesalahan baru.

Pertimbangan Psikologis

Sayangnya muncul banyak bukti bahwa kekuatan debugging adalah sifat bawaan manusia. Banyak orang yang cakap dalam hal ini, sementara banyak juga yang tidak. Menanggapi aspek manusia dari debugging. Shneiderman [SHN80] menyatakan :

Debugging merupakan salah satu dari berbagai bagian pemrograman yang membuat lebih frustasi. Debugging memiliki elemen pemecahan masalah atau pengganggu otak, yang bersama dengan penghindaran kesadaran bahwa Anda melakukan suatu kesalahan. Kekhawatiran yang meningkat dan keengganan untuk menerima, kesalahan akan meningkatkan kesulitan tugas. Sayangnya, ada keluhan yang sangat mendalam mengenai pembebasan dan pengurangan ketegangan ketika pada akhirnya bug ……… dikoreksi.

Meskipun mungkin sulit untuk mempelajari debugging, sejumlah pendekatan terhadap masalah tersebut dapat diusulkan. Kita akan melihat dalam sub bab selanjutnya.

Pendekatan-pendekatan Debugging

Tanpa memperhatikan pendekatan yang diambil, debugging memiliki satu sasaran yang diabaikan, untuk menemukan dan mengkoreksi penyebab kesalahan perangkat lunak. Sasaran tersebut direalisasi dengan suatu kombinasi evaluasi yang sistematis, intuisi, dan keberuntungan.

Bradley (BRA85) menggambarkan pendekatan Debugging dengan cara berikut :

Debugging adalah sebuah aplikasi langsung dari metodekeilmuan yang telah dikembangkan selama 2500 tahun. Dasar dari debugging adalah meletakkan sumber-sumber masalah (penyebab) dengan partisi biner melalui hipotesis kerja yang memperkirakan nilai-nilai baru yang akan diuji.

Ambillah contoh non-perangkat lunak sederhana, yaitu :

Lampu dirumah saya tidak bekerja. Bila tidak ada yang bekerja didalam rumah itu, penyebabnya tentu pada pemutus rangkaian utama atau sebab dari luar. Saya melihat sekeliling untuk melihat apakah lampu para tetangga juga mati. Saya memasukkan lampu yang dicurigai kedalam soket yang bekerja dan menyelidiki lampu rangkaian yang dicurigai. Begitulah berbagai pilihan hipotesa dan pengujian.

Secara umum, tiga kategoti pendekatan debugging dapat diusulkan (MYE79) :

  1. 1. Gaya yang kasar (Brute force)

Kategori debugging brute force mungkin merupakan yang paling umum dan metode yang paling efisien untuk mengisolasi penyebab kesalahan perangkat lunak. Kita mengaplikasikan metode debugging brute force bila semua yang lain telah gagal. Dengan menggunakan filosofi ”biarkan komputer menemukan kesalahan”, tempat sampah memori dipakai, penelusuran runtime dilakukan, dan program dibebani dengan statemen WRITE. Kita mengharapkan bahwa dimanapun didalam rawa informasi yang diproduksi, kita akan menemukan suatu kunci yang akan membawa kita kepada penyebab kesalahan. Meskipun banyaknya informasi yang dihasilkan pada akhirnya akan membawa kita meraih sukses, lebih sering dia menyebabkan kita menghambur-hamburkan usaha dan waktu. Kita harus memikirkannya terlebih dahulu.

  1. 2. Penelusuran balik (backtracking)

Backtracking adalah pendekatan debugging yang sangat umum yang dapat digunakan secara sukses didalam program yang kecil. Mulai pada sisi dimana suatu gejala diungkap, kode sumber ditelusuri balik (secara manual) samapai sisi penyebab ditemukan. Sayangnya, bila jumlah baris sumber bertambah, maka jumlah jalur balik potensial dapat sangat banyak.

  1. 3. Eliminasi penyebab

Cause elimination dimanisfestasikan oleh induksi atau deduksi serta mengawali konsep partisi biner. Data yang berhubungan dengan kejadian kesalahan dikumpulkan untuk mengisolasi penyebab potensial. Hipotesis penyebab dibuat dan data digunakan untuk membuktikan penolakan hipotesis tersebut. Sebagai alternatif, daftar semua penyebab yang mungkin dikembangkan dan dilakukan pengujian untuk mengeliminasi masing-masing kesalahan. Jika pengujian awal menunjukkan bahwa suatu hipotesis penyebab memberikan gambaran hasil yang jelas, maka data itu disaring sebagai usaha untuk mengisolasi bug.

Masing-masing pendekatan debugging tersebut dapat ditambah dengan piranti debugging. Kita dapat mengaplikasikan berbagai kompiler debugging yang luas, bantuan debugging yang dinamis (tracer), generator test case, ruang sisa memori dan peta cross-reference. Namun piranti bukanlah pengganti bagi evaluasi yang berhati-hati yang didasarkan atas dokumen desain perangkat lunak yang lengkap dan kode sumber yang jelas.

Sekali bug ditemukan, bug harus dibetulkan. Tetapi seperti telah kita catat, koreksi terhadap suatu bug dapat memunculkan kesalahan lain sehingga lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

Van Vleck (FAN89) mengusulkan tiga pertanyaan sederhana yang harus diajukan kepada perekayasa perangkat lunak sebelum melakukan koreksi yang menghilangkan penyebab suatu bug, yaitu :

  1. 1. Apakah penyebab bug direproduksi didalam bagian lain program tersebut?

Dalam berbagai situasi, kesalahan program disebabkan oleh sebuah contoh logika yang keliru yang dapat dibuat ulang ditempat lain. Pertimbangan eksplisit dari contoh logika tersebut akan menghasilkan penemuan kesalahan yang lain.

  1. 2. Apa ”bug selanjutnya,” yang akan dimunculkan oleh perbaikan yang akan dibuat?

Sebelum koreksi dibuat, kode sumber (atau lebih baik,desain) harus dievaluasi untuk memperkirakan pemasangan logika dan struktur data. Bila koreksi akan dilakukan pada bagian program yang akan dirangkai, maka harus ada perhatian khusus bila banyak perubahan dilakukan.

  1. 3. Apa yang dapat kita lakukan untuk menghindari bug ini didalam tempat pertama?

Pertanyaan ini merupakan langkah pertama untuk membangun pendekatan jaminan kualitas perangkat lunak statistik. Bila kita mengkoreksi proses dan produk, bug akan dihilangkan dari program yang ada dan dapat dieliminasi dari semua program selanjutnya.

-APLIKASI DAPODIK HELPER- Pengaturan Tidak Ditemukan Dapodikdas 301

1 (1)Bagi sebagian besar pengguna aplikasi Dapodik Helper masih saja berfikiran apabila Dapodikdas berganti versi maka Dapodik Helper juga harus ganti. Penjelasan ini sudah lama sekali dijelaskan disini namun mungkin banyak pengguna yang tidak punya banyak waktu untuk membaca informasi yang ada.

Peringatan “Pengaturan tidak ditemukan” bukan hal baru dan pasti akan muncul apabila melakukan install ulang aplikasi Dapodik Helper. Begitu juga saat melakukan install ulang atau update aplikasi Dapodikdas atau Dapodikmen seringkali peringatan tersebut muncul.

Peringatan tersebut bukan merupakan informasi tentang Dapodik Helper yang sudah habis masanya atau expired namun karena terjadi perubahan autentikasi database pada mesin tersebut. Hal ini tentu akan mengakibatkan Dapodik Helper gagal melakukan proses autentikasi dan diperlukan proses autentikasi ulang seperti saat pertama kali melakukan proses instalasi.

Setelah proses autentikasi dilakukan maka Aplikasi Dapodik Helper akan berjalan seperti biasa. Apabila dibutuhkan install ulang aplikasi Dapodik Helper, pastikan mendahulukan proses install aplikasi Dapodikdas atau Dapodikmen terlebih dahulu sebelum memulai proses Dapodik Helper.

Semoga Bermanfaat
Semangat Satu Data Berkualitas

Sumber : Dapodik Helper

SIM PEMERATAAN GURU 2014 Jenjang Pendidikan Dasar (DIKDAS)

SIM PEMERATAAN PTKSIM Pemerataan Guru (SIM PKG) adalah sebuah Aplikasi Penataan Guru dari Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (P2TK Dikdas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. untuk dijadikan acuan bagi pengelola pendidikan yang berwenang membina guru dalam menentukan kebijakan dan merencanakan serta mengkaji ulang kebutuhan guru di Kabupaten/Kota dengan Dasar Hukum :

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah;
  3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000 jo Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 jo Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil;
  6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
  7. Peraturan Pemerintah Nomor 38Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah, PemerintahanDaerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
  8. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru;
  9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan;
  10. Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Dan Menteri Agama Nomor  05/X/Pb/2011, Nomor  Spb/03/M.Pan-Rb/10/2011, Nomor  48 Tahun 2011, Nomor  158/PMK.01/2011, dan Nomor  11 Tahun 2011   tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil
  11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
  12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
  13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2013 atas perubahan Peraturan Menteri Pendidikan NasionalNomor 15Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar Di Kabupaten/Kota;
  14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah;
  15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah;
  16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan;
  17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum;

dengan adanya Aplikasi SIM Penataan Kebutuhan Guru jenjang Dikdas ini, kebutuhan guru dapat diketahui jumlah guru yang memenuhi beban mengajar paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka per minggu dan jumlah guru yang tidak mendapat alokasi mengajar paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka per minggu. dan dengan Pemberlakuan Kurikulum 2013 secara nasional mulai tahun pelajaran 2014/2015 akan berdampak pada perubahan kebutuhan jenis dan jumlah guru, sehingga setiap satuan pendidikan harus menyusun kebutuhan guru pada sekolah masing-masing.Dengan demikian, kabupaten/kota mendapatkan data kebutuhan guru yang akurat.

saat ini Aplikasi SIM Penataan Kebutuhan Guru 2014 masih dalam tahap pengembangan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (P2TK Dikdas) dan jika tidak penulis tidak salah mengingat SIM Pemerataan Guru adalah Pengembangan dari Aplikasi SIM Rasio PTK Dikdas

SIM RASIO PTK
(Tampilan SIM Rasio PTK Dikdas)

Untuk Lebih Lengkap terkait Penjelasan Aplikasi SIM Pemerataan Guru berikut Lampiran Penjelasan aturan-aturan yang mendasari Penerapan Aplikasi SIM Pemerataan Guru :
-SIM PEMERATAAN GURU 2014-
-Materi Sosialisasi SIM PEMERATAAN GURU 2014 (Mataram 21 Agustus 2014)-

Fanpage Facebook SIM Rasio P2TK Dikdas

Semoga Bermanfaat
Terima Kasih

Sistem Pemantauan Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar (e-SPM Dikdas)

spmSistem Pemantauan Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar program baru guna Pengembangan kapasitas SPM untuk mendukung  implementasi standar pelayanan minimal dikabupaten-kabupaten dan sekolah di Indonesia berdasarkan Data Pokok Pendidikan Dasar (Dapodikdas) Semester 2 Tahun Ajaran 2013/2014 dengan level akses :

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR
BAGIAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN memberikan pembekalan (Training) kepada Dinas Pendidikan Provinsi

2. Dinas Pendidikan Provinsi Memberikan Pembekalan (Training) Kepada Dinas Pendidikan Kab/Kota dalam hal proses transaksi data e-SPM Ditjen Dikdas

3. Dinas Pendidikan Kab/Kota Mencetak Kuisioner e-SPM Ditjen Dikdas sesuai Jumlah Sekolah Jenjang Pendidikan Dasar pada Kabupaten/Kota dan melakukan Sosialisasi Pengisian Instrument/Kuisioner ke Satuan Pendidikan (Sekolah), kemudian hasil isian Instrument/Kuisioner e-SPM Ditjen Dikdas tersebut diserahkan kembali oleh Satuan Pendidikan ke Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk diinputkan ke Sistem Pemantuan Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (e-SPM).

Selanjutnya setelah proses Transaksi Data e-SPM selesai dilakukan di Tingkat Kab/Kota yang melibatkan Satuan Pendidikan dan Dinas Pendidikan Kab/Kota, maka Dinas Pendidikan Provinsi Melakukan Monev (Monitoring dan Evaluasi) hasil Transaksi Data dari Satuan Pendidikan melalui Dinas Pendidikan Kab/Kota dan selanjutnya Dinas Pendidikan Provinsi memberikan masukan kepada Kabupaten/Kota untuk pencapaian Standar Pelayanan Minimal,

sedangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (Sesditjen Dikdas) Bagian Perencanaan dan Penganggaran (Bagren Ditjen Dikdas) melakukan Monev dengan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota guna memberikan arahan dan masukan dalam pencapaian Standar Pelayanan Pendidikan Dasar  yang sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2013 Tentang Pengintegrasian SPM Dalam Perencanaan dan Penganggaran Kabupaten/Kota.

jadi anggapan selama ini bahwa Operator Sekolah melakukan proses Input Data Melalui Sistem Evaluasi Pemantuan Pelayanan Minimal (e-SPM) Ditjen Dikdas adalah salah, karena tugas tersebut (Proses Entry Data / Kuisioner e-SPM) dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota, sedangkan Satuan Pendidikan (Sekolah) hanya diberikan Instrument/Kuisioner hasil print out dari Sistem e-SPM untuk selanjutnya diisikan dan diserahkan kembali ke Dinas Pendidikan Kab/Kota.

Hanya karena begitu banyaknya program-program yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akhir-akhir ini yang mengakibatkan timbulnya pemikiran dari teman-teman Operator Sekolah, bahwa setiap Sistem yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga merupakan pekerjaan / Tugas Operator Sekolah.

Sekian Penjelasan Singkat tentang Sistem Pemantauan Evaluasi Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar
Mohon Maaf jika ada kesalahan dalam Redaksi postingan ini.

SALAM SATU DATA BERKUALITAS
UNTUK PENDIDIKAN YANG BERKELAS

-Panduan Pengelolaan Sistem Pemantauan Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar (e-SPM Dikdas)-

Alur Pengajuan Kode Registrasi Sekolah Aplikasi Dapodik (Dikdas/Dikmen)

Alur Koreg BaruSeperti yang kita ketahui bahwa Aplikasi Data Pokok Pendidikan, baik itu Jenjang Pendidikan Dasar (Dapodikdas) mau pun Jenjang Pendidikan Menengah (Dapodikmen) telah berjalan dan sudah melakukan proses pengentryan Data-Data sesuai permintaan yang tersedia pada Aplikasi tersebut, namun pada dasarnya masih banyak sekolah-sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah belum terdaftar (Registrasi) pada Sistem Pendataan Dapodik ini,
baik dari kurangnya sosialisasi dari Dinas Pendidikan Kab/Kota, kurangnya perhatian dari Sekolah atau bahkan sekolah tersebut belum diajukan oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk mendapatkan kode registrasi sebagai kunci untuk melakukan proses transaksi input data mau pun proses pengiriman data ke server pendataan Dapodik (Dapodikdas / Dapodikmen). karena sesuai surat edaran dari masing-masing Direktorat (Ditjen Dikdas maupun Ditjen Dikmen), bahwa Aplikasi Dapodik ini,
data hasil pengiriman (transaksi) atau yang lebih kenal dengan Sinkronisasi akan dijadikan sebagai dasar pengambilan Kebijakan di masing-masing Direktorat (Bantuan Oprasional Sekolah “BOS”, Bantuan Siswa Miskin “BSM”, Tunjangan Guru, Bantuan Dana Alokasi Khusus “DAK”) dan lain-lain.

pada kesempatan ini kita akan membahas alur penerbitan/pemberian Kode Registrasi sekolah pada Sekolah yang belum mendapatkan (terdaftar) pada sistem Pendataan Data Pokok Pendidikan Kemdikbud

Satuan Pendidikan

  1. Satuan Pendidikan (Sekolah) mengajukan permintaan kode registrasi ke Dinas Pendidikan Kab/Kota (KK Datadik Kab/Kota)
  2. Satuan Pendidikan telah memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan terdata pada Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP)
  3. Melampirkan data Pendukung (Nomor NPSN, SK Ijin Operasional dan SK Pendirian Sekolah)
  4. Melakukan Proses Generate prefill
  5. Melakukan Proses Registrasi
  6. Melakukan Proses Input Data dan Transaksi Data (Sinkronisasi)
    * Point 4 s/d 6 bisa dilakukan jika proses pengajuan kode registrasi sudah disetujui Oleh Masing-Masing Administrator Pendataan Pusat dan Operator Dinas Pendidikan Kab/Kota telah memberikan/mendistribusikan Kode Registrasi tersebut ke sekolah bersangkutan.

Dinas Pendidikan Kab/Kota

  1. Mengajukan Permintaan Kode Registrasi Sekolah bersangkutan melalui Administrator Pendataan Dapodik Pusat (Ditjen Dikdas / Ditjen Dikdas) ke alamat email :
    Jenjang Pendidikan Dasar  koderegistrasi@gmail.com 
    Jenjang Pendidikan Menengah datadikmen@kemdikbud.go.id
  2. Mengecek Manajemen Pendataan
  3. Mendistribusikan hasil pengajuan ke Sekolah bersangkutan
    * Point 2 & 3 : jika proses pengajuan kode registrasi sudah disetujui Oleh Masing-Masing Administrator Pendataan Pusat

Administrator Dapodik (Ditjen Dikdas / Ditjen Dikmen)

  1. Memproses pengajuan/permintaan Kode Registrasi Sekolah dari Dinas Pendidikan Kab/Kota
  2. Menginsertkan Kode Registrasi hasil Approval ke Laman Manajemen Pendataan masing-masing Pendataan melalui Dinas Pendidikan Kab/Kota

Untuk Lebih lengkapnya silahkan kunjungi
-Dapodikdas Kemdikbud
-Dapodikmen Kemdikbud

Cukup Sekian tentang Penjelasan Pengajuan Kode Registrasi Sekolah baru, pada Aplikasi Dapodik (Dikdas & Dikmen)
Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam penjelasan mau pun tulisan

SALAM SATU DATA BERKUALITAS
UNTUK PENDIDIKAN YANG BERKELAS

 

SOLVING CASE DAPODIKDAS 3.0.0 (Versi 1)

UntitledPada Kesempatan kali ini kita akan membahas “Solving Case Dapodikdas 3.0.0″
Solving Case maksudnya adalah pemecahan sebuah masalah atau solusi dari sebuah kasus yang kita alami, (bukan detektif conan yee :D )

Langsung saja kita mulai Solving Case Dapodikdas 3.0.0

1. Kasus “Kode Registrasi Tidak Temukan

  • Pastikan Kode Registrasi sesuai dengan kode registrasi sekolah (sebenarnya)
  • Perhatikan Penulisan Kode Registrasi benar (bukan huruf kecil)
  • Pastikan prefill dapodik sudah pada tempatnya (C:/prefill_dapodik)

2. Kasus “Gagal Membuat Temporari Files

  • Pada kasus ini Laptop/Media entry data Dapodikdas bisa dipastikan corrupt (rusak) pada sisi software (Sistem Windows Laptop) yang diakibatkan oleh Virus
  • Lakukan repair Windows (Install Ulang Windows)
  • Ketika melakukan Instalasi Klik Kanan pada Setup Aplikasi Dapodikdas versi 3.0.0 Run As Administrator

3. Kasus “Maaf Sebagian data tidak masuk

  • Pastikan koneksi ketika melakukan proses Generate Prefill stabil
  • Lakukan Registrasi dengan keadaan Laptop terkoneksi dengan Internet
  • Lakukan Force Cahce (Ctrl + F5) atau dengan membersihkan History Browser pada Aplikasi Browser yang anda gunakan
  • Jika konfirmasi hasil registrasinya masih sama, silahkan menunggu hasil investigasi Tim Pusat Dapodikdas Kemdikbud

4. Kasus “Ukuran file prefill dapodikdas 1kb

  • Lakukan proses generate ulang prefill melalui laman Aplikasi Prefill
  • Pastikan koneksi pada saat melakukan proses generate prefill Stabil (tanpa Request Timed Out) antara koneksi Laptop mau pun Konkesi ke Server Dapodik Ditjen Dikdas
  • Unduh/Download hasil generate prefill tadi laman Aplikasi Prefill atau melalui laman Download Database Prefill

5. Kasus “Kolom Menit pada Data Periodik Siswa dan Kolom Isian Kerusakan Sarpras Hilang/Tidak Tampil

  • Gunakan Aplikasi Selancar/Browser yang sesuai dengan spesifikasi sebagai berikut :
    -Google Chrome versi 33/34
    -Opera versi 16
    -Maxthon Browser
    -Spark Baidu Browser
    -Safari Browser 

6. Kasus “Tidak Bisa melakukan Penghapusan Data Sarpras

  • Login ke Periode sebelumnya untuk menghapus Data Turunan Sarpras yang akan dihapus (Periodik dan Sarpras)
  • Lakukan Refresh Aplikasi dengan menekan F5 atau Kombinasi Keyboard Ctrl + F5 pasca melakukan Penghapusan data pada Periode sebelumnya (Semester Ganjil 2013/2014 dan Semester Genap 2013/2014)
  • Lakukan Hal yang sama pada Periode Ganjil 2014/2015

to be continued :D

SALAM SATU DATA BERKUALITAS
UNTUK PENDIDIKAN YANG BERKELAS

-Noercholish Asir L-

Aplikasi Pendataan Data Pokok Pendidikan Dasar (Dapodikdas) T.P 2014/2015 II (Store Procedure)

Aplikasi Data Pokok Pendidikan Dasar atau yang biasa disingkat Dapodikdas telah memasuki tahun ke-3 yang dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (Ditjen Dikdas) Kemdikbud sebagai Implementasi dari Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 2 Tahun 2011 tentang Kegiatan Pengelolaan Data Pendidikan dan menjadikan Pendataan Dapodik, baik Dapodikdas dan Dapodikmen (yang sedang berjalan Saat ini) sebagai Pendataan Tunggal di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dibidang Pendidikan Dasar (Dapodikdas) mau pun di Bidang Pendidikan Menengah (Dapodikmen).

pada kesempatan ini kita akan membahas tentang tools Store Procedure dimana tools ini tersimpan di server yang berguna untuk mencari data PTK atau Peserta Didik baru yang sebelumnya telah dimutasikan/diluluskan bagi PTK dan PD dari Aplikasi Dapodikdas sekolah yang lama dan user/Operator Sekolah melakukan penambahan PTK atau PD baru melalui menu “Tambah” pada Aplikasi Dapodikdas versi 3.0.0.

sebenarnya tool Store Procedure ini sudah ada pada Aplikasi Dapodikdas versi 2.0.4, namun pada penerapannya masih terdapat kendala, sehingga tools ini dinon aktifkan oleh Administrator Dapodikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai antisipasi keterlambatan ketersediaan data yang akan digunakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dalam mengimplementasikan program-program dan kebijakan yang berlaku di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dalam hal ini Ditjen Dikdas dan P2TK Dikdas)

Alur penerapan Store Procedure
alur penerapan tools store procedure melalui mekanisme Sinkronisasi (Sync) yang terbagi menjadi 2 kali proses sinkronisasi dengan delay atau waktu tunda akibat proses transmisi data dari satu titik ke titik lain yang dituju (dalam hal ini server PDSP Kemdikbud sebagai pusat store procedure)

1. OP Input PD dan PTK Baru
2. Sync (1st)
3. Data kekirim ke pusat (Sinkronisasi Berhasil)
4. Store Procedure di server dijalankan (ini fungsinya mencari pd/ptk yg telah di ajukan, apakah ada tidak datanya di server). Jika ada maka data di update (tambah registrasi_peserta_didik dan ubah data yg telah ditemukan tsb utk siap dikirimkan ke lokal). Namun jika tidak, maka data tersebut diberi tanda bahwa tidak ditemukan
5.  Sync (2nd), : Tahap Komprasi Data antara data Lokal (Aplikasi) dan Server
6. Sync (3rd) : Tahap Penarikan/penurunan Data yang ditemukan diserver ke Lokal (Aplikasi) melalui Store Procedur

Sync ketiga (3rd) ini data2 yg telah di beri tanda maupun di ubah oleh SP tersebut akan dikirimkan dari server.
Intinya, PD/PTK baru bisa berjalan jika SP (Store Procedure) yg ada di server telah dijalankan.
Hasil Sinkronisasi Jika Sukses dan “SP (Store Procedure)” sudah dijalankan pada server, Peserta Didik Baru Contoh nya PD “Kelas 7 SMP”  dan Siswa Mutasi Masuk (Lulusan SD mau pun Mutasi dari sekolah) jenjang SMP sudah bisa dipindahkan ke Tabel Utama jika kolom “Sts” berubah warna (merah) dan jika data tidak temukan kolom “Sts” warna tidak berubah (Hijau).selanjutnya PTK atau Peserta Didik yang datanya ditemukan pada server melalui mekanisme Store Procedure (SP) bisa dipindahkan ke “Tabel Utama

Penjelasan Kolom Status Kolom “Sts” Pasca Sinkronisasi SP
Kolom “Sts” 
berwarna Hijau : Status Tersebut menunjukkan Data PD/PTK Baru tidak ditemukan pada server melalui mekanisme Store Procedure
Kolom “Sts” berwarna Merah : Status Tersebut menunjukkan bahwa Data PD/PTK baru yang ada pada tabel Penampung Sementara (Bagi PD/PTK baru) bisa dipindahkan ke Tabel Utama dengan mengklik nama PD/PTK tersebut, kemudian mengklik menu “Pindahkan Ke Tabel Utama”

Untitled

Sekian Informasi tentang mekanisme Store Procedure pada Aplikasi Dapodikdas versi 3.0.1, semoga bermanfaat dan bisa mengurangi rasa penasaran teman-teman Operator Sekolah terkait Peluncuran Resmi Aplikasi Dapodikdas Generasi ke-3 (Dapodikdas versi 3.0.0) yang akan release resmi pada tanggal 1 Agustus 2014 (Informasi dari Administrator Dapodik Ditjen Dikdas)

SALAM SATU DATA BERKUALITAS

WEBSIDE RESMI YANG DIGUNAKAN PENDAFTARAN SELEKSI FORMASI ASN

Surat menteri PAN-RB merupakan tindak lanjut dari Surat Menteri PAN-RB nomor B/2550/M.PAN-RB/06/2014 tanggal 20 Juni 2014 perihal Tambahan Alokasi Formasi ASN.  dalam Surat menteri tersebut aplikasi pendaftaran CPNS secara online yang dimiliki Badan Kepegawaian Negara (BKN), yaitu sscn.bkn.go.id

Menurut Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tasdik Kinanto PPK diminta segera mengirimkan persyaratan pendaftaran CPNS secara detail di masing-masing instansi Panselnas ASN 2014. “Selanjutnya  akan dipublikasikan melalui website portal pendaftaran seleksi formasi ASN secara nasional,” .

Kepala BKD menegaskan agar Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk segera berkoordinasi dengan Kanreg BKN atau Laboratorium Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kemendikbud yang ada di provinsi, untuk mempersiapkan pelaksanaan seleksi CPNS di kabupaten dan kota, Dalam seleksi pegawai ASN untuk tahun 2014 secara keseluruhan diwajibkan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT).  

Nah berikut ini situs resmi Nasional yang akan digunakan  untuk pendaftaran seleksi formasi ASN :
 
sedangkan untuk persyaratan pendaftaran tersebut dapat disampaikan ke alamat email : evalap.sdmaparatur@menpan.go.id atau  evalap.sdmaparatur@gmail.com dalam bentuk soft copy dengan format word.
 
Demikian informasi yang dapat menjadi acuan rekan-rekan yang mengikuti seleksi CPNS untuk tahun 2014, semoga informasi ini dapat membantu rekan-rekan

Aplikasi Pendataan Data Pokok Pendidikan Dasar (Dapodikdas) T.P 2014/2015

Aplikasi Data Pokok Pendidikan Dasar atau yang biasa disingkat Dapodikdas telah memasuki tahun ke-3 yang dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (Ditjen Dikdas) Kemdikbud sebagai Implementasi dari Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 2 Tahun 2011 tentang Kegiatan Pengelolaan Data Pendidikan dan menjadikan Pendataan Dapodik, baik Dapodikdas dan Dapodikmen (yang sedang berjalan Saat ini) sebagai Pendataan Tunggal di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dibidang Pendidikan Dasar (Dapodikdas) mau pun di Bidang Pendidikan Menengah (Dapodikmen).

Pada Aplikasi Dapodikdas generasi ke-3 (Dapodikdas versi 3.0.0) menurut salah satu pengembang/Administrator dan juga Staf Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Bapak Yusuf Rokhmat  menjelaskan “Dapodikdas generasi ke-3 Tidak banyak perubahan yang terjadi pada aplikasi terbaru yang tidak lama lagi akan disebar luaskan tersebut. Fasilitas tambahan yang sudah ramai beredar mengenai penambahan fasilitas pengisian nilai raport pada versi 3.0.0 ini BATAL ditambahkan, artinya secara fasilitas tidak ada penambahan fasilitas baru hanya penambahan jenis isian saja dan penyempurnaan fasilitas yang sudah ada” namun perlu mengingat bahwa pada Aplikasi Dapodikdas generasi ke-2 (versi 2.0.0 s/d versi 2.0.8) yang saat ini masih berjalan ada begitu banyak kendala yang dihadapi oleh user/Operator Sekolah, mulai dari permasalahan entry data hingga proses pengiriman data ke server Dapodikdas.

tidak banyak berubah dalam artian mulai dari proses Registrasi sampai proses pengiriman data Dapodikdas (Sinkronisasi) masih sama dengan Aplikasi Dapodikdas generasi ke-2, dan menurut bocoran info dari para user yang sedang melakukan testing Aplikasi Dapodikdas generasi ke-3 (versi 3.0.0) hanya ada penambahan menu isian, contohnya 
1. Akreditasi Sekolah  :
- SK Akreditasi
-TMT & TST Akreditasi,
-Status Akreditasi, dan
- Lembaga yang memberikan Akreditasi Sekolah  

2. Program Inklusi
- Melayani Program Inklusi
-SK Program Inklusi
-TMT & TST
 Inklusi
-Keterangan

3. Action Menu gunanya untuk menampilkan data-data (Sortir) mulai dari Data yang terhapus sebagai tindak lanjut dari keluhan user/Operator Sekolah yang seringg menemukan data berganda pada server Dapodikdas (progress Pengiriman)
Action Menu terdapat pada Menu utama “Peserta Didik”, “PTK”, “Sarpras”, dan “Rombongan Belajar” 

Jika melihat dari antusiasme Operator Sekolah dalam mensukseskan pendataa Dapodik ini perlu kiranya merevisi kebijakan testing yang hanya dilakukan oleh beberapa Individu saja karena jika menelisik jauh lebih dalam Program berskala Nasional seperti ini harusnya melibatkan semua user/Operator Sekolah Jenjang Dikdas diseluruh setidaknya terjadi hubungan Feedback antara administrator Program (Ditjen Dikdas) dan Operator Sekolah dan untuk mengurangi permasalahan teknis yang terjadi dilapangan dengan Mendengarkan Masukan-masukan yang diberikan oleh Operator Sekolah demi terwujudnya Tagline pendataan Dapodik “SATU DATA BERKUALITAS” (Jika mimpi yang saya tuliskan ini menjadi kenyataan) :D

Sekian informasi tentang Aplikasi Dapodikdas versi 3.0.0
semoga bermanfaat bagi kita semua..

SALAM SATU DATA BERKUALITAS !!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.